Surabaya, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur mengingatkan Pengurus Cabang NU Kota Surabaya untuk menata dan menjaga aset yang dimiliki agar tidak beralih fungsi serta kepemilikan.

“Penjagaan aset ini yang masih lemah sehingga perlu mendapat perhatian khusus, terutama oleh PCNU Surabaya,” ujar Sekretaris PWNU Jatim Akhmad Muzakki di sela Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) II PCNU di Surabaya, Sabtu.

Menurut dia, masalah aset menjadi pekerjaan rumah yang sangat penting karena diakuinya di sejumlah daerah juga masih ditemukan kelemahan, bahkan terjadi pergantian kepemilikan.

“Di PC daerah lain, ganti pengurus maka asetnya berubah nama, ada juga tidak ada yang mau diganti. Ini menjadi permasalahan penting dan Surabaya harus ditata sebaik mungkin,” ucapnya.

Guru besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya tersebut mencontohkan PCNU Sidoarjo yang belum lama ini melakukan penataan aset dengan baik, yakni terdapat sekitar 7.000 aset milik organisasi.

Tak hanya penataan aset, pada kesempatan sama PWNU meminta PCNU Surabaya memperhatikan masalah pendidikan sains sehingga kualitas sumber daya manusia yang dihasilkan bisa bersaing.

“Perhatikan juga peta dakwah di era digital atau dengan pemanfaatan teknologi infomasi agar jangan sampai ketinggalan. Satu lagi adalah pengembangan ekonomi NU dengan berbagai cara, karena orang NU sangat jarang ahli di bidang perekonomian, baik mikro mapun makro,” katanya.

Di tempat sama, Wakil Ketua PCNU Surabaya Muhammad Yazid mengakui Muskercab kali ini juga memiliki agenda prioritas menjelang tiga tahun kepemimpinan masa khidmat, salah satunya penguatan proses dan revitalisasi aset di Surabaya.

“Muskercab juga mempertegas program bahwa PCNU ingin melaksanakan kegiatan pemberdayaan ekonomi jam`iyah dan SDM, mulai tingkat cabang hingga paling bawah, terutama di bidang pendidikan dan kesehatan,” kata ketua panitia Muskercab II tersebut.

Sementara itu, hal senada disampaikan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang menyampaikan telah berkoordinasi dengan PCNU setempat untuk mengurusi persoalan aset milik NU.

“Saat mengumpulkan dulu susah, senior-senior NU bahkan urunan dengan warga. Aset milik organisasi harus ditata dan dijaga agar tidak hilang sehingga harapannya bisa menyejahterakan anggota,” katanya. (ant)