Home / BERITA / Diantara Gerakan Radikal Dan Islam Simbolik

Diantara Gerakan Radikal Dan Islam Simbolik

Muhibbin ZuhriOleh : Dr H Achmad Muhibbin Zuhri MAg

Gerakan radikal dan Islam simbolik saat ini bisa juga  menjadi  tantangan terberat yang harus ditangkal oleh umat Islam dan masyarakat. Karena banyak simbol simbol Islam yang hanya dimanfaatkan oleh orang orang yang punya kepentingan untuk menghancurkan Islam dari dalam.Contoh kecilnya, simbol islam dengan kalimat takbir dianggap atau diklem menjadi ciri khas Front Pembela Islam (FPI) atau milik FPI, apabila seseoramg bersuara lantang seraya bertakbir maka yang muncul dalam pandangan publik adalah FPI.

Selain itu misalkan juga bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), meski sebenarnya misi mereka adalah merongrong keutuhan NKRI dengan memkai simbol Islam. Sehingga dalam hal ini ada klaim mengklem tulisan kalimat La’ila ha illallah sebagai simbolnya HTI. Dan akhirnya identitas Islam sudah mulai hilang dari subtansinya, apalagi digunakan dalam hal kekerasan dan pemakasaan. Maka tercorenglah keadaan Islam sehingga timbullah yang namanya fobia Islam.

Tidak berlebihan kiranya jika saya katakan Islam saat ini kehilangan identitas aslihnya, karena propaganda non muslim untuk menghancurkan Islam ini luar biasa. Bayangkan banyak gerakan gerakan kekerasan yang kemudian berdalih demi Islam, demi menegakkan kalimat tuhan, citra diri Islam di rorong dan dicabik cabik dengan sekian rupa lewat probaganda seting jelek terhadap islam dan darisni tamatlah islam ketika seperti ini. Lantas jika demikian adanya kita bisa apa dan mau apa??

Dalam hal ini, saya juga sedikit memberikan pemaknaan terhadap Islam yang dibagai menjadi dua, pertama yaitu Islam secara simbolik dan yang kedua Islam secara substantif. Islam simbolik di sini artinya adalah hanyalah sekedar simbol/tanda saja tidak lebih, sedangkan makna dari substansi adalah esensi, atau inti dari suatu hal ikhwal itu sendiri.

Sebagai contoh kecil Islam yang secara simbolik dapat ditemukan secara mudah di layar televisi ketika bulan Ramadhan tiba. Jika kita punya waktu luang, cobalah kita perhatikan pakaian apa saja yang digunakan oleh para artis saat bulan Ramadhan, kemudian kostum apa yang mereka gunakan sebelum dan sesudahnya. Jika diamati, maka kostum yang dipakai para seleb tersebut akan berbeda antara “bulan puasa” dengan “bulan lainnya”.

Saat “bulan puasa,” para seleb lelaki lebih sering menggunakan baju koko, sorban melilit di leher sebagai pengganti syal dan terkadang berpeci segala. Sedangkan seleb perempuan akan lebih cenderung mengenakan kerudung ala kadarnya yang sekedar menempel di kepala dengan tetap memperlihatkan jambul depannya, ditambah pakaian yang lumayan panjang meskipun terkadang masih eksplisit untuk menerjemahkan “bahasa tubuh”.

Islam secara simbolik ini juga bisa kita lihat pada perilaku ormas-ormas yang bisa dengan mudah memukul saudaranya sesama muslim sambil meneriakkan takbir. Dalam menjalankan perintah-perintah dalam agama Islam, kita tidak boleh hanya menitikberatkan pada aspek simbolis saja, jangan sampai perintah-perintah dalam agama Islam seperti yang sejatinya mengajak kepada kebaikan malah menjauhkan orang lain dari kebaikan. Saya rasa banyak orang yang tadinya ingin mengenal Islam berbalik tidak peduli dengan Islam bahkan memusuhi Islam karena sikap para penganutnya yang hanya mementingkan simbol belaka.

Sedangkan Islam secara substantif, bisa kita ambil contoh dari ungkapan Muhammad Abduh, yaitu  “Saya menemukan Islam di Paris, meski tidak ada orang Islam di sana. Dan saya tidak menemukan Islam di Mesir, meski banyak orang Islam di sini.” Kata Muhammad Abduh.

Dalam perspektif Islami secara substantif ini makna Islam didefinisikan lebih kepada kesalehan sosial seperti mengasihi orang lain, menjaga kebersihan, membebaskan orang lain dari belenggu ketertindasan, dan lain-lainnya.

Jika meminjam istilahnya tokoh Intelektual Muslim asal India yaitu Ashgar Ali Engginer. Dalam bukunya yang berjudul Islam and Liberation Theology, beliau mengatakan bahwa Masyarakat apapun yang didalamnya masih terdapat eksploitasi kepada kaum yang lemah dan tertindas tidak bisa disebut Islami, walaupun ritual-ritual Islam dijalankan bahkan diformalkan sebagai hukum. Ia juga mengatakan, bahwasanya konsep tauhid bukan sekedar bermakna keesaan Tuhan tapi juga bermakna kesatuan manusia. Tauhid adalah jalan untuk pembebasan kemanusiaan.

Selama ini, kita sering menjadikan ritual-ritual sebagai tujuan. Padahal, ikrar kita bahwa tiada Tuhan selain Allah berarti ikrar bahwa setiap penindasan harus dihancurkan. Karena penindasan adalah bentuk pengingkaran terhadap kekuasaan Tuhan.

Melihat dinamika hidup saat ini, benar juga sabda rosulullah dalam sebuah hadis yang berbunyi “Islam itu tidak akan rusak hanya karena perlawanan non muslim, tapi agama islam rusak oleh orang islam sendir (kelakuan islam), yang dalam hal ini bisa dikatakan orang orang yang mengatasnamakan agama tapi malah menciptakan kegaduhan dalam beragama”

Maka sebanarnya apa yang bisa kita kerjakan atau sikap dalam menghadapi dinamika kehidupan pertarungan idiologis seperti saat ini?. Ada dua cara bersikap sebenarnya yang bisa jadi kuncinya, pertama  kita tetap tekun beribadah, tetapi harus moderat. Kedua, kita bolehlah berfikir liberal tapi jangan ngaur dalam bersikap. (*)

About admin

Check Also

makesta IPPNU 5

IPPNU Unesa Dorong Kader Kembali Ke Masyarakat

Sidoarjo, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dikenal dengan kampus pendidikan di kota Surabaya. Unesa lebih banyak …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *