Home / BERITA / Belajar Sabar Dari Umar Bin Khattab Dan Ar-Rifai’ie

Belajar Sabar Dari Umar Bin Khattab Dan Ar-Rifai’ie

umar-bin-khattabEtika seorang suami sudah berusaha sedemikian rupa untuk berhubungan dengan istrinya secara patut, namun tidak jarang istrinya malah menunjukkan sikap yang tidak sesuai dengan harapan. Si istri malah sering melakukan perbuatan yang tidak disukai oleh suaminya. Bukannya taat dan menuruti perintah suaminya, malah berani membantah suaminya. Lebih buruk dari itu, si istri tidak segan-segan bersikap kasar terhadap suaminya. Pada saat yang demikian itu terjadi, inilah ujian membangun rumah tangga yang harus dapat diatasi oleh seorang suami.

Bagaimana cara mengatasinya? Tentu saja tidak mudah. Persoalan hubungan rumah tangga merupakan persoalan yang pelik. Seringnya terjadi perceraian yang terjadi akhir-akhir ini terutama dari kalangan selebritis menunjukkan bahwa mengatasi persoalan yang terjadi dalam rumah tangga itu tidak mudah. Seringkali emosi dan ego dari masing-masing pihak lebih dikedepankan daripada kesediaan dan kesabaran menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Bila emosi dan ego yang berbicara, maka akibatnya bisa sangat fatal: hancurnya biduk rumah tangga. Apalagi kalau si suami yang memiliki otoritas untuk menceraikan istrinya dengan begitu mudahnya mengucapkan kata “talak” atau “cerai”. Dalam keadaan emosi dan tidak terkontrol, kata “cerai” atau “talak” dapat mudah terlontar. Padahal, pengucapan kata-kata tersebut sangat membayakan kelangsungan mahligai rumah tangga yang mereka bangun.

Untuk itulah, Allah SWT telah memberikan peringatan akan terjadinya persolan dalam hubungan rumah tangga. Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisaa’ [4]: 19)

Salah satu pesan penting dari ayat tersebut adalah mengutamakan kesabaran dalam menghadapi persoalan rumah tangga. Pesan yang menekankan kepada kesabaran sangat penting artinya karena manusia itu mudah terjerembab dalam mengambil kesimpulan yang salah. Terlebih lagi, ketika berada dalam suasana emosi ataupun marah, maka obyektivitas atau kejernihannya dalam memandang masalah seringkali terganggu. Untuk itulah manusia diingatkan, mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.

Tulisan ini mencoba menunjukkan bagaimana kesabaran sahabat Nabi SAW dan kaum sufi dalam menghadapi persoalan dalam rumah tangga. Terutama masalah dalam menghadapi seorang istri yang berani membantah terhadap suaminya. Mereka berhasil mengatasi masalah yang terjadi dalam rumah tangganya karena mengedepankan kesabaran.

Kesabaran Umar

Parasahabat Nabi SAW juga tidak lepas dari masalah rumah tangga. Demikian pula yang dihadapi oleh Umar bin Khaththab r.a. Dalam kitab Tanbiihul Ghaafiliin karya Al-Al-Faqih Abu Laits Samarqandi  disebutkan bahwa ada seorang laki-laki yang hendak mengadukan keberanian istrinya kepada Umar bin Khaththab r.a.

Laki-laki itu menduga bahwa dia akan mendapat pertolongan dari Umar bin Khaththab r.a. dalam mengatasi masalah rumah tangga yang tengah dihadapinya. Alih-alih dapat pertolongan, saat akan menginjak pintu rumah Umar, dia mendengar istri Umar tengah membantahnya.

Mengetahui hal itu, dia mengurungkan niatnya untuk mengadukan istrinya kepada Umar. “Aku akan mengadukan istriku kepada Umar kerena istriku telah membantahku. Namun, Umar sendiri mengalami hal yang sama denganku,” katanya membatin.

Saat laki-laki itu hendak melangkah pulang, Umar memanggilnya, “Adaperlu apa engkau datang kemari?”

“Sebenarnya aku akan mengadukan keberanian istriku, tetapi istrimu juga melakukan hal yang sama. Maka sebaiknya aku pulang saja,” jawab laki-laki itu.

Ketika itu, Umar memberikan pesan penting yang sangat berguna bagi laki-laki itu. Umar mengatakan, “Aku memaafkan istriku karena dia punya hak yang harus aku penuhi.”:

Umar kemudian menyampaikan beberapa alasan mengapa harus memaafkan istrinya. Di antaranya adalah bahwa istrinya merupakan benteng dirinya dari api neraka, istrinya memelihara rumah dan hartaku selagi dirinya tidak di rumah dan istrinya merupakan ibu rumah tangga bagi keluarganya.

Kemudian laki-laki itu berkata, “Istriku juga seperti itu. Karena itu, aku harus memaafkannya.”

Kesabaran Ar-Rifai’ie

Teladan dalam menghadapi istri yang berani terhadap suaminya ditunjukkan oleh seorang sufi besar abad ke-6 yaitu Ahmad bin Ali Ar-Rifa’ie. Dalam buku Percik-percik Keteladanan Kiai Hamid Pasuruan karya Hamid Ahmad (2001), disebutkan kisah tentang Ahmad bin Ali Ar-Rifa’ie yang berhasil mencapai kedudukan mulia di sisi Allah berkat kesabarannya dalam menghadapi istri yang berani terhadapnya.

Pada suatu hari salah seorang muridnya memergoki Ar-Rifa’ie sedang dipukuli oleh istrinya di bagian punggungnya. Meski mendapat perlakuan kasar dari istrinya, Ar-Rifa’ie diam saja. Malah, muridnya yang menyaksikan kejadian itu tidak terima dan hendak melakukan sesuatu untuk mencegah perbuatan buruk yang dilakukan oleh istri gurunya itu.

Namun sang guru mencegahnya seraya mengatakan, “Kalau bukan karena sabar menanggung perbuatan istriku, aku tak akan kamu lihat di maq’adi shidq (suatu tempat yang terhormat di surga).”

Muridnya itu memang pernah melihat sang guru berada di maq’adi shidq, tetapi dia tidak pernah bercerita kepada gurunya itu.

Mokh. Syaiful Bakhri

 

 

About admin

Check Also

Kewajiban-Menuntut-Ilmu-Agama

Mencari Ilmu

Mencari Ilmu Oleh : KH Fahrurozi (Wakil Sekretaris PWNU Jatim ) Mencari ilmu wajib bagi …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *