Home / FEATURES & ARTIKEL / Masjid dan Gerakan Kota Tanpa Kumuh

Masjid dan Gerakan Kota Tanpa Kumuh

Diskusi Kolaborasi Masjid
Masjid dan Gerakan Kota Tanpa Kumuh

Baru-baru ini dilaksanakan talkshow disebuah televisi swasta di Surabaya Sabtu (15/10). Selain penulis, hadir dalam kesempatan tersebut adalah Pranata (TL OSP 6 Jawa Timur), Indriati Listyorini (Kasatker PKP Jawa Timur) dan KH. Fuad Anwar ( Ketua LTMNU Jawa Timur). Dalam diskusi mengemuka gagasan menjadikan Masjid sebagai salah satu poros gerakan penataan lingkungan permukiman kumuh. Menurut KH Fuad Anwar, takmir Masjid Jawa Timur mempunyai program 1000 Masjid bersih. Tentunya tidak hanya Masjidnya saja, melainkan lingkungan disekitar Masjid juga harus bersih. Lingkungan dalam pengertian jalan, drainase, sanitasi dan sampah disekitar kawasan kampung menuju Masjid.

Program ini membuka kemungkinan berkolaborasi antara Masjid dengan Program KOTAKU. Sebab dalam konteks ini keduanya punya semangat yang sama yaitu mewujudkan lingkungan bersih dan layak huni. Mengkolaborasikan KOTAKU dengan program 1000 Masjid bersih bukan berarti menumbuhkan semangat sektarianisme. Sebab tujuan utamanya  adalah membangun kesadaran kritis masyarakat terhadap lingkungan sekitar yang bersifat kultural dengan instrumen Masjid sebagai titik masuk (entry point). Kesadaran yang dibangun tidak hanya melalui skema program, melainkan lewat gerakan-gerakan kultural diberbagai aktifitas Masjid. Bukankan kesadaran adalah proses kerja berkelanjutan serta dapat dibangun melalui media apa saja yang memungkin untuk itu, termasuk media Masjid.  Bangunan kesadaran kultural biasanya lebih kuat dan langgeng dibanding kesadaran program. Implementasi penataan lingkungan kumuh melalui KOTAKU perlu bertransformasi dari kesadaran program menjadi kesadaran gerakan. Sebab jika sebatas program, kesadaran yang terbangun adalah kamuflase, untuk tidak mengatakan sebagai kesadaran semu.

Menjadikan Masjid sebagai entry point gerakan lingkungan tanpa kumuh menemukan signifikansi karena beberapa hal. Pertama, Masjid memiliki modal kepercayaan (trust) dimasyarakat yang cukup kuat dan sejauh ini belum ternodai. Manajemen Masjid cukup sederhana namun transparan.  Dalam bidang keuangan misalnya, Masjid-Masjid secara berkala (biasanya setiap jum’at) mengumumkan pemasukan, pengeluaran dan saldo terakhirnya. Tradisi ini pada tahap tertentu dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat. Karena itu Masjid dapat menjadi institusi yang relatif independen khususnya dalam hal pendanaan. Masjid mampu membangun sarana dan prasana tanpa mengandalkan bantuan pemerintah. Kepercayaan dan indepensi yang mungkin dewasa ini hilang dari kebanyakan lembaga-lembaga sosial, tidak seperti kepercayaan yang dimiliki Masjid.

Kedua, Masjid memiliki solidaritas komunitas cukup tinggi. Terlebih di Masjid-masjid yang memiliki tradisi keagamaan sama, biasanya rasa solidaritas jauh lebih kental. Bila ada Jama’ah  yang dalam satuatau dua hari tidak kelihatan, maka dengan segera bisa diketahui Jamaah tersebut sedang sakit atau ada halangan tertentu. Dan bila diketahui sakit, maka segera ada tindakan bersilaturahmi atau memberikan bantuan sekedarnya. Dengan demikian benar yang dikatakan Arif Afandi dalam sebuah tulisannya di media nasional bahwa Masjid bisa menjadi pendeteksi paling valid keadaan masyarakat, terutama di komunitasnya. Persoalan-persoalan di Masyarakat bisa segera diketahui lewat intensitas komunikasi  yang dibangun setiap saat.

Akan tetapi sejauh ini bangunan solidaritas baru sebatas pada aspek moral dan personal. Dimensi solidaritas belum mengarah pada persoalan-persoalan publik. Kendatipun sudah ada Masjid dengan program santunan  dan beasiswa anak tidak mampu, namun masih relatif sedikit dibanding jumlah Masjid yang ada. Selain itu program-programnya masih bersifat  tentatif dan belum sustanable. Melalui kerja kolaborasi akan dapat mendorong semangat solidaritas Masjid kearah lebih luas yaitu kepedulian terhadap penataan lingkungan kumuh.

Ketiga, Masjid memiliki jejaring (networking) cukup kuat. Pada Masjid-Masjid yang punya kedekatan kultur keagamaan tertentu telah terjalin koordinasi dan komunikasi yang intens. Namun sejauh ini intensitas koordinasi masih berhenti di aspek-aspek ubudiyah. Sehingga fungsi jejaring Masjid masih perlu diperluas dimensi dan subtansinya. Proses pertukaran informasi tentang program-program pemerintah juga dapat dilakukan lewat Masjid. Dengan demikian tingkat kemanfaatan Masjid jauh lebih luas tidak sebatas urusan ubudiyah melainkan juga persoalan-persoalan publik disekitarnya.

      Trust, solidarity dan network sebagai bentuk modal sosial (social capital) Masjid memerlukan sentuhan pengembangan dari berbagai arah, termasuk dari gerakan Kota Tanpa Kumuh. Hubungan simbiosis mutualisme akan terjalin jika hal itu bisa direalisasikan. Terhadap Masjid memperoleh keutamaan setidaknya untuk 2 (dua) hal. Pertama, Masjid dapat memperluas fungsi kemanfaatannya pada persoalan-persoalan publik yang terjadi disekitarnya. Kedua, Masjid dapat mengembalikan fungsi utamanya sebagai pusat gerakan kemaslahatan umat dan dengan demikian kesan tentang Masjid hanya sebatas tempat melaksanakan amalaiyah ubudiyah dapat dikikis. Sementara disisi lain, melalui kolaborasi, KOTAKU dapat mentransformasi proses kesadaran penataan lingkungan dari tahap kesadaran program menjadi kesadaran gerakan. Pelaku ditingkat lapang akan memiliki kesadaran spiritual baru tentang kepedulian lingkungan. Semangat kepedulian terhadap lingkung bukan semata-mata urusan perintah program melainkan karena dorong kesadaran kultur keagamaan segera bisa terbangun. Lebih dari itu semua kolaborasi ini akan memberikan kontribusi pada kemaslahatan umat secara nyata. (Ditulis Oleh Moh. Zainul Aripin, MP.d – Praktisi / Koodinator Program KOTAKU Kota Surabaya)

About admin

Check Also

images

Kisah Hebat Imam Bukhari Lepas dari Fitnah ‘Seribu Dinar’

“Sebelum menyimak kisah ini, ada baiknya kita hitung dulu berapa banyak 1000 dinar itu. Kalau …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *