Home / TOKOH / KH. Hasyim Latief; Komandan Tempur Hizbullah

KH. Hasyim Latief; Komandan Tempur Hizbullah

Sejak akhir abadhasjim-latief ke 18, Pesantren-pesantren Jombang memainkan peranan penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Banyak tokoh pergerakan dan pejuang nasional yang dilahirkan dari pesantren-pesantren di Jombang, seperti Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras, Pesantren mambaul Maarif Denanyar hingga Pesantren Tebuireng yang didirikan oleh Hadratus Syekh Hasyim Asyari pada tahun 1899. Tak terhitung banyaknya tokoh dan kader bangsa hasil didikan pesantren-pesantren ini. Bahkan pada awal abad ke 20, pemerintah Dai Nippon mencatat sekitar 2 ribu Kyai di Jawa dan Madura adalah hasil didikan Pesantren Tebuireng. Salah seorang tokoh Ulama dan Pejuang hasil didikan Pesantren Tebuireng ialah Munir Hasyim Latif, yang kemudian dikenal sebagai KH Hasyim Latief.

Munir Hasyim Latief atau lebih akrab dipanggil Hasyim Latief lahir di Sumobito, sebuah wilayah di sebelah timur kota Jombang tanggal 17 Mei 1928. Hasyim Latief merupakan putra ke 3 dari 4 bersaudara. Ayahnya bernama Abdul Latief bin Imam al-Zuhdi seorang petani dan juga pedagang, sedang kakeknya adalah seorang Tokoh dan Penghulu Agama di wilayah Sumobito. Semangat berwirausaha agaknya mengalir dari teladan sang ayah yang gigih berdagang kala itu. Kehidupan Hasyim Latief juga mengalami keadaan yang serba sulit sejak ayahnya Abdul Latif menjadi tahanan Pemerintah Kolonial. Bahkan beban jiwanya kian terguncang, setelah Ibu dan kakak pertamanya meninggal. Praktis dirinya tinggal bersama Kakak keduanya yang bernama Muhammad (Ayahanda Budayawan Emha Ainun Nadjib) dan seorang adik. Untuk mencukupi keperluan hidup sehari-hari bagi diri dan keluarganya, Hasyim Latief berusaha dengan berjualan jajanan yang di kirim ke warung di kampung sekitar, sambil 2 hari sekali Hasyim Latief mengunjungi Ayahnya dengan mengayuh sepeda untuk mengantar 1 rantang makanan dan pakaian. Tempaan kondisi seperti itu nyatanya membawa hikmah bagi Hasyim Latief, yakni munculnya semangat kerja keras dan jiwa kemandirian. Kegemaran membaca buku mewarnai kehidupan dan ide-ide besar Hasyim Latief. Kegemaran ini pula yang kemudian memunculkan kemampuan komunikasi interpersonal terhadap semua lapisan masyarakat. Hasyim Latief muda ialah sosok yang rapi dan gagah dalam penampilannya, sehingga nampak kepribadian penuh wibawa yang memiliki sikap disiplin dan komitmen yang tinggi. Karakter-karakter tersebut pada perjalanannya turut menghiasi kiprah Hasyim Latief saat memimpin PWNU Jatim di tahun 1980-an.

Hasyim Latief sangat beruntung dapat belajar langsung ke Hadratus Syekh Hasyim Asyari di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang tahun 1938. Saat itu teman-teman seangkatan Hasyim Latief di pondok Tebuireng, antara lain KH Munasir Ali, KH Muchit Muzadi serta KH Yusuf Hasyim (Putra Hadratus Syekh Hasyim Asyari). Meski di Pesantren ini tak lama, Hasyim Latief sempat mengikuti 2 kali khataman Kitab Shahih Bukhari yang langsung di ajarkan gurunya Hadratus Syekh Hasyim Asyari. Setelah dari Tebuireng, Hasyim Latief melanjutkan ke sebuah Pesantren di Sumobito yang diasuh oleh KH Syamsul Huda dan sebuah Pesantren di wilayah Balong Dowo Jombang.

Sebagai Patriot Laskar Hisbullah

Masa muda Hasyim Latief lebih banyak aktif di Laskar Hisbullah, yakni sebuah Badan Kelaskaran yang didirikan Umat Islam Indonesia  di bulan Oktober 1944, setelah Saiko Shakikan (Petinggi Jepang di Indonesia) mengumumkan dikabulkannnya permintaan para pemimpin Islam untuk mendirikan Korps Sukarelawan Islam. Persyaratan dapat menjadi anggota Laskar Hisbullah ialah mereka yang berusia paling tinggi berumur 25 tahun, sedang yang berusia 40 tahun ke atas masuk dalam keanggotaan Laskar Sabilillah. Pendidikan kemiliteran untuk Laskar Hizbullah dipusatkan di Cibarusa Jawa barat, yang diikuti kurang lebih 500 pemuda islam dari Jawa dan Madura. Hasyim Latief termasuk salah seorang santri bersama teman-teman yang berasal dari Jombang. Pelatihan ini berlangsung selama 4 bulan  yang dipimpin oleh para Syodanco (Komandan Kompi dari PETA – Tentara Pembela Tanah Air) dan bekal materi kerohanian dipimpin oleh KH Wahid Hasyim.

Sepulang dari Cibarusa di bulan Januari 1945, Hadratus Syekh Hasyim Asyari mendesak KH Abdul Wahab Hasbullah untuk melakukan mobilisasi pada lulusan Cibarusa untuk segera membentuk kepengurusan Laskar Hizbullah di Jombang. Melalui musyawarah singkat terbentuklah Laskar Hizbullah Jombang dengan komposisi Abdul Wahib Wahab sebagai Komandan dan Hasyim Latief sebagai Pelatih. Perlu diketahui, dibanding daerah lainnya jumlah pemuda yang ingin menjadi anggota Laskar Hizbullah Jombang jauh lebih besar. Untuk menampung minat besar tersebut, digelar sebuah pelatihan untuk menunjang kesiapsiagaan yang terbagi dalam 3 gelombang masing-masing gelombang 500 peserta dan total anggota pelatihan Laskar Hizbullah Jombang berjumlah sekitar 1500 pemuda di tahun 1945.

Ketika di Surabaya terjadi pertempuran 10 November 1945, Hasyim Latief didaulat menjadi komandan kompi pasukan dengan didampingi beberapa Kyai. Pasukan ini bertugas  untuk melakukan aksi spionase dan penyerapan informasi terhadap gerakan Pasukan Sekutu yang telah berhasil mengendalikan Surabaya. Guna merebut kembali Kota Surabaya dari kendali Pasukan Sekutu, Pimpinan Laskar Hizbullah Devisi Sunan Ampel bersama Laskar dan Pejuang-pejuang lainya sepakat melakukan penyerbuan secara massal atau lebih dikenal dengan Serbuan Oemoem Soerabaja (SOS). Pada SOS I, Hasyim Latief dan pasukannya melakukan penyerbuan dari Tulangan, sebuah wilayah di sebelah barat Kota Sidoarjo. Pada SOS II Hasyim Latief melakukan persiapan penyerbuan dengan melakukan konsolidasi Pasukan di wilayah Perning Mojokerto, Pasukan Hasyim Latief juga mendapat tambahan pasukan dari Hizbullah yang baru datang dari Jombang dan Laskar Sabilillah Mojokerto. Upaya penyerbuan yang dilakukan Pasukan Hasyim Latief ini berhasil memukul mundur Pasukan Sekutu hingga ke wilayah Gunungsari Surabaya.

Pada tanggal 5 mei 1947, pemerintah menyatukan Tentara republik dengan badan-badan Kelaskaran. Kemudian pada tanggal 3 Juni 1947 Pemerintah secara resmi mengesahkan berdirinya Tentara Nasional Indonesia sebagai satu-satu wadah Tentara Bersenjata. Dengan adanya keputusan tersebut, Divisi Sunan Ampel dan Badan Kelaskaran lainnya di Jawa Timur di persatukan dalam Brigade 29. Laskar Hizbullah Divisi Sunan Ampel menjadi resimen 293 dengan Komandan letkol Abd Wahib Wahab.

Pada tahun 1948 Resimen 293 juga melakukan operasi penumpasan pemberontakan PKI di Madiun. Dalam sejarahnya Resimen 293 kemudian diperkecil menjadi 2 batalyon, yakni Batalyon 42 Diponegoro dan Batalyon 39 Condromowo. Pangkat terakhir Hasyim Latief setelah penggabungan ini adalah Dan Ki Letnan I Hasyim Latief. Dengan adanya keputusan perubahan status Kelaskaran yang mendasar, secara perlahan-lahan masing-masing anggota Laskar Hizbullah dan Sabilillah terus menyesuaikan diri sebagai Pejuang dan Pasukan yang Profesional.(Udy Hakim)

About admin

Check Also

at tauhid

Pemerintah Pernah ‘Buang’ Kurikulum Pesantren

Mengenal Pondok Pesantren Islam At-Tauhid, Sidosermo, Surabaya PONDOK Pesantren Islam At-Tauhid berawal dari salah satu …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *