Home / BERITA / Pemerintah Pernah ‘Buang’ Kurikulum Pesantren

Pemerintah Pernah ‘Buang’ Kurikulum Pesantren

kyai-tholhahMengenal Pondok Pesantren Islam At-Tauhid, Sidosermo, Surabaya

PONDOK Pesantren Islam At-Tauhid berawal dari salah satu pewaris perjuangan dan keturunan pendiri pondok pesantren Ndresmo. Beliau adalah KH Mas Ahmad Tholhah Bin Abdulloh Sattar. Beliau lahir di Surabaya pada 12 Desember 1919 M. Sosok yang memiliki tekad pengabdian sepanjang hidup. Hampir seluruh hidupnya dihabiskan untuk mengabdikan diri dalam perjuangan Izzul Islam wal Muslimin. Pada masa mudanya beliau aktif dalam perang gerilya bersama-sama tentara Hizbullah dan Pasukan Panglima Besar Jenderal Soedirman

Pada masa itu pondok pesantren merupakan salah satu tempat yang dijadikan sebagai markas pasukan tentara Hizbullah, tak terkecuali pondok pesantren Ndresmo. Pada suatu operasi yang dilancarkan oleh tentara Hizbullah, beliau Mas Tholhah muda berhasil mencuri senjata di gudang senjata Belanda di kawasan Ngagel Surabaya. Senjata-senjata itu kemudian dikirim ke markas batalyon di Ponorogo. Dari perjuangan tersebut beliau mendapatkan kehormatan berupa pangkat Letnan TNI AD.

KH Mas Tholhah Abdullah Sattar juga dikenal sebagai Kyai yang berilmu tinggi baik dalam tingkat ilmu pengetahuannya juga dalam ilmu kadikdayaan atau ilmu kanuragan, karena selain mengajar pendidikan agama di wilayah pondok pesantren juga mengajar pendidikan agama di luar pondok pesantren melalui media mimpi. Salah satu murid yang dididik melalui media mimpi yakni KH Nur Iskandar di Jakarta. Meskipun banyak Kiai yang lebih sepuh dari KH Mas Tholhah Abdullah Sattar, yang mempunyai ilmu tinggi di wilayah Sidoresmo, namun KH Mas Tholhah Abdullah Sattar lah yang paling disegani.

Setelah Indonesia mendapatkan rahmat kemerdekaannya, perjuangan KH Mas Tholhah tidak begitu saja berhenti. Beliau melanjutkan pengabdian hidupnya di jalur Tafaqquh Fid Diin. KH Mas Tholhah melihat bahwa pola pendidikan dan pengajaran di pondok pesantren dirasakan masih perlu adanya sentuhan perbaikan dan peningkatan di beberapa aspek. Kemudian pada tahun 1969 M dengan tekad keras beliau memulai mewujudkan sebuah pondok pesantren yang lebih sistemik dan berdirilah Pondok Pesantren Islam “At-Tauhid” sebagai bagian tak terpisahkan dari pondok pesantren Ndresmo. Pola pendidikan yang beliau ambil adalah menggabungkan ranah metode pendidikan salaf dengan metode pendidikan formal dengan kurikulum pendidikan nasional yang digunakan oleh Pemerintah Indonesia. Pada tahun 1969 itu pula Pondok Pesantren Islam At-Tauhid secara resmi membuka Madrasah Ibtidaiyah dengan menggabungkan kurikulum Departemen Agama dan kurikulum lokal pesantren yang menggunakan kitab-kitab salafi.

Pada tahun ajaran 1976-1977 M, Madrasah Ibtidaiyah AT-Tauhid mulai mengeluarkan lulusan perdananya dengan ijazah negeri. Pada tahun ajaran 1977-1978 Pondok Pesantren Islam At-Tauhid membuka secara resmi Madrasah Tsanawiyah dengan metode yang sama dengan Madrasah Ibtidaiyah yang lebih dahulu eksis. Tahun ajaran 1980-1981 Madrasah Tsanawiyah mengeluarkan ijazah negeri setingkat SMP untuk lulusan pertamanya. Sebagian besar dari mereka lulusan Madrasah Tsanawiyah tetap menetap di pondok sembari meneruskan jenjang pendidikan Madrasah Aliyah di luar pondok. Hal ini lebih disebabkan oleh belum dibukanya Madrasah untuk tingkatan Aliyah. Tuntutan dan harapan santri dan masyarakat yang begitu besar pada saat itu akhirnya terpenuhi dengan dibukanya Madrasah Aliyah pada tahun ajaran 1982-1983. Madrasah Aliyah At-Tauhid baru mengeluarkan lulusan pertamanya pada tahun ajaran 1985-1986.

Pada tahun 1986, Pondok Pesantren Islam At-Tauhid membuka Madrasah Tahfidzil Quran. Madrasah yang diresmikan langsung oleh beliau KH Mas Tholhah Abdulloh Sattar pada 10 Muharram 1407 H ini merupakan jawaban atas banyaknya permintaan simpatisan dan masyarakat luas baik yang disampaikan langsung maupun melalui surat kepada pondok agar secara khusus menerima santri yang berminat memperdalam dan menghafal Alquran. Syarat untuk dapat mengikuti program Madrasah Tahfidzul Quran pada saat itu adalah; pertama, Santri calon Hafidz/Hafidzoh harus lulus dalam uji dasar calon Hafidz/Hafidzoh dengan standar yang telah ditetapkan. Kedua, sanggup untuk tidak mengikuti kegiatan lain yang tidak secara langsung berhubungan dengan program Tahfidzul Quran hingga program selesai.

Pola penerapan kurikulum gabungan yang menjadi “Nilai Lebih” dari Madrasah Ibtida’iyah, Tsanawiyah dan Aliyah di Pondok Pesantren Islam AT-Tauhid terus berjalan dengan mulus hingga pemerintah mengeluarkan kebijakan baru pada tahun 1987. Kebijakan itu memaksa seluruh unit madrasah di lingkungan Pondok Pesantren Islam AT-Tauhid untuk membuang hampir seluruh materi kurikulum lokal yang sesungguhnya merupakan “Nilai Lebih” dari keberadaan Madrasah di Pondok Pesantren Islam AT-Tauhid. Seluruh unit madrasah di AT-Tauhid akhirnya tidak “berbeda” dengan madrasah dan sekolah-sekolah lainnya.

Untuk menampung kembali muatan lokal yang terbuang dari unit madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah sekaligus memberi ruang lebih pada kajian pendalaman khazanah keilmuan agama secara lebih spesifik dan terfokus, KH Mas Tholhah Abdullah Sattar meresmikan Madrasah Diniyah AT-Tauhid pada tahun 1988 M. Seluruh Santri Pondok Pesantren Islam AT-Tauhid diwajibkan mengikuti kegiatan di Madrasah Diniyah sesuai tingkatan masing-masing. Hal ini dilakukan demi menjaga dan mempertahankan sibghoh/karakter Ma’hadiyyah pada diri santri-santri Pondok Pesantren Islam AT-Tauhid. Pada tahun 1992 didirikan juga Taman Pendidikan Alquran/TPQ sebagai wujud kepedulian AT-Tauhid terhadap kebutuhan masyarakat untuk mengenalkan anak-anak mereka terhadap Alquran. bbs

About admin

Check Also

Kewajiban-Menuntut-Ilmu-Agama

Mencari Ilmu

Mencari Ilmu Oleh : KH Fahrurozi (Wakil Sekretaris PWNU Jatim ) Mencari ilmu wajib bagi …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *