Home / BERITA / KH Ahmad Dahlan Ahyad Peletak Tradisi Keilmuan Masyarakat Kota

KH Ahmad Dahlan Ahyad Peletak Tradisi Keilmuan Masyarakat Kota

bedah buku ahmada ahyadSurabaya, KH. Ahmad Dahlan Achyad dinilai salah satu tokoh peletak tradisi keilmuan di masyarakat muslim perkotaan ala thoriqoti aswaja an-nahdliyyah yang juga salah satu pendiri taswirul afkar.

Hal ini diungkapkan oleh Ketua Nahdaltul Ulama Kota Surabaya Dr. Ahmad Muhibin Zuhhri dalam bedah KH Achamd Dahlan Achyad, “Membaca Sejarah Tokoh;Langkah Memahami Ideologi Bangsa”, di kampus Universitas Islam Negeri Surabaya, Senin (22/8).

Ia mengatakan sosok KH Ahmad Dahlan telah membawa bangunan tradisi keilmuan yang berkembang tumbuh subur dalam tradisi pergerakan kaum religius nasionalis saat itu, Dimana kritisisme satu sama lain tumbuh konstruktif dengan cara-cara elegan, penuh kesantunan dan beralhlaqul karimah.

Untuk itu ia berpendepat karya Dr. Wasid ini patut terus diangkat ke permukaan, “Kajian sejarah Islam di nusantara khususnya tokoh-tokoh lokal muslim yang amat jarang di ketengahkan dalam tradisi tulis dilingkungan kita, “ujarnya.

Sementara itu dalam bukunya Wasid Mansur mengungkapkan bahwa KH Ahmad Dahlan merupakan salah satu tokoh NU pada era awal yang menjabat sebagai wakil rais aam, satu tingkat di bawah KH Hasyim Asy’ari yang menjabat sebagai rais akbar Nahdlatul Ulama, juga sebagai penggerak dan pembela ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.

Seperti yang dikatakan oleh Soekarno tentang Jasmerah (angan sekali-kali melupakan sejarah), sebagai Nahdliyin dilarang keras untuk melupakan sejarah kita sendiri. Dengan mengenal tokoh-tokoh awal NU, dapat meneladani bagaimana perjuangan serta pengorbanan para muassis NU yang tidak hanya menegakkan agama tetapi juga menegakkan berdirinya NKRI hingga dapat kita rasakan sampai saat ini.

Kiai Dahlan bernama lengkap Ahmad Dahlan ibn Muhammad Ahyad, terlahir pada 13 Muharram 1303 H yang bertepatan dengan tanggal 30 Oktober 1885 di Kebondalem Surabaya, sebuah wilayah yang berada di Kecamatan Simokerto, sebelah timur makam Raden Rahmatullah Sunan Ampel, Kiai Dahlan merupakan putra ke empat dari enam bersaudara.

Pendidikan beliau dimulai dari ayahnya sendiri, KH Muhammad Ahyad, pendiri sekaligus pengasuh pondok pesantren Kebondalem Surabaya. Setelah itu Kiai Dahlan belajar kepada Syaikhona Kholil ibn Abdul Latif (pengasuh pondok pesantren Kademangan, Bangkalan-Madura) lalu dilanjutkan berguru kepada Kiai Mas Bahar ibn Noer Hasan (pengasuh pondok pesantren Sidogiri Pasuruan).

Ini membuktikan bahwa keilmuan yang dimiliki oleh Kiai Dahlan merupakan keilmuan yang memiliki sanad yang jelas dan bersambung hingga kepada sayyidina Muhammad, karena banyak anak muda zaman sekarang yang berguru kepada internet yang jelas-jelas tidak memiliki sanad.

Dalam dunia pergerakan, Kiai Dahlan merupakan tokoh yang sangat sentral dalam membangun jaringan antar pesantren, letak pesantren Kebondalem yang strategis memberikan kemudahan tersendiri bagi beliau untuk merintis jaringan tersebut. Dengan jaringan inilah Kiai Dahlan dapat mengerti kondisi terkini yang dihadapi bangsa, termasuk isu-isu tentang keagamaan.

Kiai Dahlan juga berperan penting bagi berdirinya Taswirul Afkar (kontekstualisasi pemikiran) yang didirikannya bersama Kiai Wahab dan Mangun, yang mana perkumpulan ini merupakan perkumpulan diskusi/kajian yang membahas dan mencari solusi atas masalah-masalah keagamaan dan sosial kemasyarakatan kaitannya dengan persoalan kekinian yang dihadapi oleh umat Islam Ahlussunnah wal Jamaah.

Sedangkan dalam urusan pembiayaannya, Kiai Dahlan bersama pimpinan lainnya mendirikan Syirkatul Amaliyyah, yaitu semacam koperasi yang sahamnya dijualbelikan kepada para anggota Taswirul Afkar.

Langkah ini disinyalir turut membantu pembiayaan kebutuhan harian, apalagi tidak adanya subsidi dari pemerintah Hindia-Belanda untuk perkumpulan tersebut. Kiai Dahlan bersama para kiai yang lainnya, juga berhasil membentuk MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) pada tanggal 12-15 Rajab 1356 H, bertepatan pada 18-21 September 1937.
Organisasi ini dibentuk dengan tujuan menyatukan semangat kebangsaan antar seluruh ormas Islam untuk merespon penjajahan serta mentolerir segala perbedaan antar ormas sebagai sebuah keniscayaan. (win/kron)

About admin

Check Also

Kewajiban-Menuntut-Ilmu-Agama

Mencari Ilmu

Mencari Ilmu Oleh : KH Fahrurozi (Wakil Sekretaris PWNU Jatim ) Mencari ilmu wajib bagi …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *