Home / BERITA / Bersama-Sama Tangkal Gerakan Wahabi

Bersama-Sama Tangkal Gerakan Wahabi

gerakan bersama tangkal wahabiSURABAYA  – Penolakan warga NU dan Muhammadiyah Kalimantan Selatan (Kalsel) terhadap tokoh Salafi Wahabi, Ustadz Khalid Basalamah saat hendak menghadiri pengajian Akbar pekan kemarin, mendapat perhatian tokoh muda Muhammadiyah, Jawa Timur, Solikhul Huda.

Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya ini, berharap tokoh-tokoh NU dan Muhammadiyah segera duduk bersama, membuat formula yang tepat bagaimana menghadapi gerakan dakwah yang suka mengkafir-kafirkan kelompok lain.

“Salah satu cara efektif untuk menghadapi gerakan Wahabi adalah dengan mencerahkan para dai atau mubaligh kita yang ada di NU dan Muhammadiyah sehingga berwawasan toleran, damai, dan terbuka. Posisi muballigh ini sangat penting karena mereka berhadapan langsung dengan umat,” kata Solikhul Huda SH.I, MH.I kepada duta.co, Minggu (21/8).

Tokoh Salafi Wahabi, Ustadz Khalid Basalamah gagal tampil di pengajian Akbar yang mestinya dilakukan pekan kemarin. Sejumlah tokoh dari Nahdlatul Ulaam (NU) dan Muhammadiyah menolak Ustadz Khalid Basalamah karena dinilai hanya akan membuat situasi panas. Selama ini, baik Nahdliyin maupun warga Muhammadiyah di Kalsel, merasa ‘dijajah’ masjid dan musalanya oleh wahabi.

Sebagaimana diberitakan situs fakhox.ga, penolakan sosok Khalid Basalamah oleh warga Kalsel, lantaran dia dianggap pernah menghina rakyat Aceh dalam ceramahnya. Padahal, secara emosional umat Islam Banjarmasin di Kalimantan Selatan adalah saudara dekat dengan Aceh, sejak dulu terikat hubungan batin, seiman dan seakidah.

Rakyat Kalsel mengkhawatirkan terjadi kerusuhan bila diterima, dan mereka juga tidak ingin dihina seperti rakyat Aceh. Masyarakat Kalsel bahkan mengumunkan secara langsung melalui mikrofon-mikrofon di masjid Hasanuddin Madjedi jika kajian penuh misi pengkafiran (takfiri) oleh Khalid Basalamah harus dihentikan untuk selama lamanya di Kalimantan Selatan.

Sementara, Majelis Tarjih dan Tajdid PW Muhammadiyah Kalsel juga pernah secara bersama-sama mengkaji secara intens persoalan keumatan. Salah satunya adalah maraknya gerakan salafi di masjid Muhammadiyah yang makin meresahkan warga Muhammadiyah.

Berdasarkan laporan PD Muhammadiyah saat itu, persoalan tersebut semakin menggejala hampir di seluruh masjid Muhammadiyah se-Kalimantan Selatan. ‘Perseteruan’ antara Muhammadiyah dengan salafi, pada awalnya hanya persoalan berbeda pendapat saja, tapi belakangan hal tersebut merembet sampai menyalahkan dan menganggap pendapat yang dianut Muhammadiyah adalah salah.

Lebih dari pada itu, ada persoalan yang cukup krusial, adalah upaya ‘pengambilalihan’ Masjid/Musalla Muhammadiyah yang dijadikan lahan untuk mengembangkan paham Salafi Wahabi.

Menanggapi hal tersebut, para pengkaji merekomendasikan agar pimpinan wilayah secara tegas membuat surat edaran kepada seluruh pengelola Masjid/Musala Muhammadiyah untuk selektif dalam memilih khatib/penceramah dalam pengajiannya. Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa penceramah di luar Muhammadiyah ketika berceramah di lingkungan Muhammadiyah justru mematahkan atau bahkan mengobok-obok paham yang diyakini Muhammadiyah.

Masih menurut peserta pengkajian, ketegasan pimpinan sangat diperlukan demi menjaga kestabilan umat di akar rumput, sehingga tidak mengalami kebimbangan atau keraguan dalam beribadah. Demikian diberitakan di website Muhammadiyah.or.id.

“Itulah sebabnya, menurut hemat kami diperlukan gerakan bersama antara NU-Muhammadiyah agar umat tidak terombang-ambing oleh paham yang salah,” jelas Solikhul Huda.(mky)

About admin

Check Also

IMG_1728

Tingkatkan TI di Bidang Kesehatan, Fakultas Teknik Unusa datangkan Pakar dari BPJS Kesehatan

Surabaya – Untuk menunjang perkembangan zaman dan kemampuan dalam bidang teknologi informasi, Program Studi S1 …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *