Home / BERITA / Kapolri Perintahkan Polisi Komunikasi Dengan NU

Kapolri Perintahkan Polisi Komunikasi Dengan NU

tito secara simbolis menerima kartanu dari PBNUJakarta, Kapolri Jenderal Tito Karnavian meminta anggota kepolisian untuk membangun komunikasi dengan Nahdlatul Ulama (NU). Langkah itu dilakukan agar tercipta hubungan kemitraan yang baik antara kepolisian dengan ormas keagamaan, NU khususnya.

“Kemudian akan kita intruksikan jajaran Polri untuk membangun komunikasi dengan seluruh jajaran NU. NU dan Polri adalah mitra yang lama sekali. Saling menguntungkan lah,” jelas Tito usai bertemu PBNU di Kramat Raya, Jakarta, Kamis (18/8).

Menurut Tito, pertemuan dilakukan antara kepolisian dan NU sebagai silaturahmi. NU disebut Tito sebagai founding father NKRI .”Sama-sama kita punya ideologi yang sama NKRI. Saya kan baru menjabat kurang lebih satu bulan. Hubungan yang memang sudah baik. Pak Kyai sekaligus seluruh pengurus PBNU komunikasi terus kita tingkatkan,” jelas Tito yang didampingi sejumlah pejabat Polri antara lain Staf Ahli Irjen Arief Sulistyanto.

“Dan kita bantu dalam realisasi kerja sama. Seperti nanti tanggal 1 September kita akan bentuk MoU sekaligus nanti ada seminar di Surabaya tentang masalah hukum dan lain,” tegas dia.

Selain itu dalam pertemuan yang berlangsung di lantai  3 gedung PBNU ini, baik Tito maupun Kiai Said membicarakan berbagai persoalan kebangsaan, seperti terorisme dan radikalisme, narkotika, dan lain sebagainya.

Kiai Said menyampaikan persoalan adanya gerakan antinasionalisme Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang sampai sekarang masih bergerak dengan bebas. Gerakan tersebut saat ini masih kecil dan lemah, tetapi jika tidak diantisipasi lebih dini bisa mengancam keutuhan bangsa.

Mengenai Front Pembela Islam (FPI), Kiai Said menyampaikan bahwa gerakan ini bukan gerakan Wahabi atau ingin mendirikan negara Islam, tetapi misinya ingin menegakkan amar makruf nahi mungkar. Sayangnya apa yang dilakukan tidak terkoordinasi dengan aparat keamanan.”Jadinya malah merusak citra Islam yang damai,” paparnya.

Dalam kesempatan tersebut Tito meminta pandangan PBNU tentang Majelis Tafsir Al-Quran (MTA) yang baru-baru ini bertemu dengannya. Ia meminta penjelasan tentang kasus antara Banser dan MTA baru-baru ini di Boyolali.

Kiai Said menjelaskan, ajaran MTA banyak yang membidah-bidahkan amaliah NU, salah satunya mengharamkan tahlil. “Berbeda itu biasa, tetapi kalau sampai menyalah-nyalahkan amaliah orang lain, itu yang tidak benar,” paparnya.

Robikin MH, salah satu ketua PBNU memberikan penjelasan tambahan mengenai kasus di Boyolali. Kelompok MTA sebelumnya sudah diingatkan untuk tidak membikin provokasi di lingkungan warga NU, tetapi mereka tetap memaksa. Yang dilakukan Banser hanya upaya penghadangan saja, sampai akhirnya terjadi bentrokan kecil.

Kiai Said menekankan, NU dari dulu sudah terlibat dalam banyak program pembangunan pemerintah. Tanpa diminta, para kiai NU sudah membimbing masyarakat. Ia mencontohkan kesuksesan program KB salah satunya berkat dukungan para kiai NU yang menjelaskan bahwa mengatur kelahiran tidak haram dalam Islam.

Kepada Tito, Kiai Said juga siap membantu program pemerintah seperti pentingnya membangun kesadaran hukum dengan melibatkan Ansor, Banser, dan Pagar Nusa. NU saat ini juga sedang membikin buku Fikih Bela Negara. MoU kerjasama tersebut akan dibuat dalam waktu dekat seusai pertemuan ini. (win/nuo)

About admin

Check Also

IMG_1728

Tingkatkan TI di Bidang Kesehatan, Fakultas Teknik Unusa datangkan Pakar dari BPJS Kesehatan

Surabaya – Untuk menunjang perkembangan zaman dan kemampuan dalam bidang teknologi informasi, Program Studi S1 …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *