Home / BERITA / Mbah Hasyim Lebih Dulu Satukan Islam Dan Kebangsaan

Mbah Hasyim Lebih Dulu Satukan Islam Dan Kebangsaan

kang saidPasuruan, Ketua Umum PBNU KH Said Agil Siradj menjelaskan bahwa KH Hasyim Asy’ari jauh sebelum mendirikan NU dan lahirnya negara Indonesia telah memikirkan bentuk penyatuan antara Islam dan Kebangsaan untuk diterapkan dalam suatu negara.

Pasalnya, setelah runtuhnya sistem kekhalifahan Islam, banyak ulama di berbagai negara gagal membangun kembali sistem khalifah untuk diterapkan dalam sebuah negara.

Sebaliknya, para pejuang nasionalis, sosialis dan demokrat di berbagai belahan negara yang mayoritas penduduknya muslim, seperti Iraq, Mesir, Syria, Tunisia, Sudan dan sebagainya justru berhasil membangun sebuah negara nasionalis pasca Perang Dunia I karena mereka mengedepankan semangat kebangsaan daripada isu agama.

“Islam tanpa kebangsaan belum tentu dapat menyatukan umat. Dan nasionalis tanpa agama maka tidak akan memiliki ruh atau nilai-nilai sprititual dalam nasionalisme itu. Ini cita-cita atau visi-misi Mbah Hasyim sebelum mendirikan NU,” tegas Kang Said, saat Apel Besar Harlah ke-93 NU di Taman Candrawilwatikta Pandaan Pasuruan, Sabtu (30/4) malam..

Yang patut disyukuri, ulama-ulama di Indonesia tidak seperti di negara Timur Tengah karena mereka itu ulama sekaligus nasionalis, seperti KH Hasyim Asyári dan ulama-ulama NU lainnya. Bahkan hanya Mbah Hasyim satu-satunya ulama yang berani mengatakan “Hubbul waton minal iman (Cinta tanah air itu sebagian daripada Iman)”.

“Komitmen NU sudah tidak perlu diragukan lagi karena sejak dulu tetap berkomitmen menggabungkan antara Islam ahlussunah waljamaah dan nasionalisme. Bahkan keputusan Muktamar NU di Banjarmasin tahun 1936, NU menghendaki negara yang damai (Darussalam). Negara yang dibagun diatas perdamaian lintas agama, etnis, dan budaya itu tidak akan luntur sampai hari kiamat,” tegas pria yang pernah menempuh pendidikan selama 13 tahun di Arab Saudi ini.

Jasa besar Bapak Proklamator Bung Karno, kata Kang Said, juga sangat besar terhadap bangsa ini. Sebab dialah yang menciptakan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia yang kali pertama dibacakan pada 1 Juni 1945 disidang BPUPKI.

“Kalau ada pihak-pihak yang mencoba membelokkan fakta sejarah, kalau hari lahirnya Pancasila bukan 1 Juni, itu sama saja mengecilkan peran dan jasa Bung Karno serta menafikan sejarah bangsa sendiri. Mari kita lawan pendapat itu,” tegasnya.

Bung Karno menciptakan Pancasila itu karena dia mendapat Ilham dari Allah. Karena itu Pancasila sebagai dasar negara dan berbangsa bagi NU dan umat Islam yang moderat adalah final. “Orang Indonesia yang mau mendalami agama Islam belajarlah ke Timur Tengah. Tapi ulama Timur Tengah harus belajar ke Indonesia terutama NU tentang bagaimana membangun bangsa dan masyarakat yang sadar dengan bernegara,” ungkap Kiai Said Agil Siraj.

Menurut Ketum PBNU itu, menjadikan Pancasila sebagai pandangan hidup bernegara dan berbangsa itu sudah benar karena Islam bisa diamalkan dan menjadi warna hidup keseharian. “Bagi NU, Islam itu tidak perlu diformalkan atau dikonstitusikan atau dilegal formalkan. Tapi Islam itu diamalkan dan dijadikan warna hidup kita sehari-hari, itulah Islam ahlussunah waljamaah,” tegas Kang Said.

Ironisnya, sekarang ini justru ada kelompok-kelompok kecil yang menamakan Islam Indonesia, sebut saja HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) atau Gafatar yang ingin mendirikan khilafah. Kemudian Wahabi dan Salafi yang suka menghantam amalan-amalan warga NU dengan sebutan bid’ah, musyrik, hingga kurafat. “Ulama-ulama mereka itu belum selesai ngajinya, hanya jenggotnya saja yang panjang,” kelakar Kang Said.

Musuh kita bersama saat ini bukan hanya radikalisme atau terorisme tetapi juga narkoba karena sudah menjangkiti seluruh lapisan masyarakat mulai dari yang miskin, kaya hingga pejabat sipil, TNI maupun Polri. “Mari kita jadikan Narkoba lawan kita bersama, saya juga mendukung Presiden Jokowi menghukum mati bandar narkoba karena telah merusak tatanan hidup masyarakat,” imbuhnya.

Selain itu, lanjut Kang Said, yang perlu diwaspadai bersama adalah LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) karena ingin melegalkan perkawinan sejenis. “Masak Indonesia yang mayoritas muslim dan NU melegalkan perkawinan sejenis. Padahal negeri komunis seperti China saja melarang. Kita tolak ya, mudah-mudahan yang mendukung LGBT anak cucunya jadi LGBT semua” terang pengasuh Ponpes di Cirebon ini.(win)

About admin

Check Also

IMG_1728

Tingkatkan TI di Bidang Kesehatan, Fakultas Teknik Unusa datangkan Pakar dari BPJS Kesehatan

Surabaya – Untuk menunjang perkembangan zaman dan kemampuan dalam bidang teknologi informasi, Program Studi S1 …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *